Kiri : “Assalamualaikum, Ayah”
Ayah : “Waalaikumussalam, Nak”
Kiri : “Ayah, apakah kita mempunyai kamera?”
Ayah : “Ayah punya, tetapi kameranya sudah lama tidak digunakan. Mungkin saja sudah rusak”
Kiri : “Tidak apa-apa, Yah”
Ayah : “Memangnya untuk apa kamera itu, Kak?”
Kiri : “Kak hanya ingin lihat saja, Yah. Dimana ayah letakkan kamera itu?”
Ayah : “Di atas lemari kamar Ayah kak”
Kiri : “Oke, Yah”
(Setelah melihat kameranya, Kiri membawa Kamera itu dan memberikannya ke Ayah untuk dihidupkan)
Ayah : “Sepertinya kamera ini sudah tidak dapat digunakan lagi, Kak. Ayah rasa baterainya sudah rusak. Gimana kalau beli baru aja, Kak?”
Kiri : “Memangnya boleh, Yah?”
Bunda : “Boleh kok, tapi dengan uang Kakak sendiri”
Kiri : “Loh, Kakak mana punya uang, Bun. Gimana kalau sebagian uang Kakak, sebagiannya lagi uang Ayah sama Bunda?”
Ayah : “Ayah sama Bunda si no problem. Tapi ada syaratnya, Kak”
Kiri : “Apa syaratnya, Yah?”
Ayah : “Pertama, Kakak harus hafal surat Al-Kahf lancar dan disetorkan sama Ayah atau Bunda. Kedua, Nilai ulangan Bahasa Indonesia Kakak tidak boleh di bawah 87. Dan yang terakhir, 5 juz yang sudah Kakak hafal harus dimuroja’ahkan dan disetorkan ke Ayah secepatnya kalau Kakak ingin kameranya cepat sampai.”
Kiri : “Sepertinya syarat kedua sedikit sulit, Yah. Gimana kalau begini saja, syarat kedua diganti menjadi nilai ulangan Bahasa Indonesia tidak boleh di bawah KKM”
Bunda : “Baiklah, Bunda dan Ayah setuju”
Ayah : “Jika Kakak berhasil menuntaskan 3 syarat tadi di bulan ini, Kami akan membelikan kamera baru pilihan Kakak sendiri”
Kiri : “Pakai uang Ayah sama Bunda, ya?”
Bunda : “Kalau tes Kakak lancar, pakai uang Bunda”
Kiri : “Hore!!Terimakasih, Yah sama Bunda”


