RESENSI NOVEL RINDU
- Identitas Novel
- Judul Novel : Rindu
- Pengarang : Tere Liye
- Jumlah Halaman: 523 halaman
- Penerbit : Republika
- Tahun terbit : Oktober 2014
- Cetakan ke : 1 (satu)
- Sinopsis Novel
Novel ini bercerita tentang perjalanan haji tahun 1938. Di tahun-tahun tersebut, jika kita ingin menunaikan ibadah kelima dalam rukun Islam ini, kita mesti menaiki kapal selama lebih dari 1 bulan karena jarak Indonesia dengan Arab Saudi yang jauh. Tetapi bukan haji yang menjadi fokus cerita ini, melainkan kisah dan pertanyaan dari setiap penumpang kapal di dalamnya. Terdapat 5 pertanyaan, yaitu tentang bagaimana caranya menerima masa lalu yang kejam? Bagaimana caranya mengusir rasa benci yang menggumpal di dalam hati? Bagaimana caranya menerima takdir dari Tuhan yaitu ketika kita kehilangan orang yang sangat kita sayangi? Bagaimana caranya menerima harapan yang pupus? Terakhir, bagaimana caranya melawan kemunafikan dan justru diri kitalah yang munafik tersebut?
Meskipun banyak sekali bagian “galau” dalam novel ini, tetapi diujung cerita kita akan disuguhkan dengan ketegangan yang melanda seluruh isi kapal dan inilah yang menjadi ciri khas Tere Liye, yaitu membolak-balikkan perasaan pembaca yang tadinya justru sedih, dan menuju akhir cerita pembaca mesti memacu adrenalin membaca mereka dan pada akhirnya mengharu biru.
- Keunggulan Novel
Terdapat 5 keunggulan novel ini:
- Novel ini sarat akan ilmu dan hikmah di dalamnya. Ini merupakan ciri khas Tere Liye yaitu menyelipkan pengetahuan yang jarang diketahui banyak orang dan cerita yang selalu memiliki hikmah atau pelajaran yang dapat kita petik setelah membacanya.
- Cerita-cerita yang tidak pernah bikin bosan. Seperti kehadiran tokoh Anna dan Elsa yang merupakan kakak beradik anak dari salah satu saudagar tanah bugis Makassar. Tokoh ini benar-benar menjadi pewarna dalam cerita yang kelam. Ocehan dan celetukan khas mereka juga menjadi warna tersendiri dalam novel ini. Ada juga kisah tentang Ambo Uleng yang dalam pelariannya setelah mengalami masa lalu yang kandas. Dan juga yang menjadi perhatian, yaitu kehadiran Ulama besar Tanah Bugis Gurutta Ahmad Karaeng yang bijaksana.
- Walaupun hanya berbentuk tulisan, tetapi Tere Liye berhasil membawa kita ke atmosfer kehidupan Indonesia tahun 1938. Cerita ini benar-benar hidup ditambah dengan ketegangan yang terjadi di akhir novel yang sangat menguras adrenalin membaca
- Pemilihan kata yang mudah dimengerti oleh pembaca sehingga pembaca tidak akan kebingungan ketika membacanya.
- Novel ini akan sangat seru jika diangkat ke layar lebar. Tentunya dengan diangkat ke layar lebar, fantasi pembaca akan terbayarkan dengan visual film yang menurut penulis tidak akan main-main
- Kelemahan Novel
Menurut penulis, tidak banyak kelemahan novel ini. Hanya saja, penceritaan yang lambat di awal buku, mungkin akan membuat pembaca bosan untuk melanjutkan ke halaman selanjutnya.
- Saran / Rekomendasi
Novel ini sangat disarankan untuk seluruh usia jika pembaca bijak dalam menelaah setiap isi buku. Tetapi, penulis sarankan bahwa novel ini lebih cocok untuk usia 15 tahun keatas karena ada beberapa pemahaman yang belum dapat dipahami usia yang ada dibawahnya.



