You dont have javascript enabled! Please enable it!

Postmodern dalam Lalita

Berbicara mengenai mahakarya Ayu Utami yang melegenda, secara implisit maupun eksplisit masyarakat baca akan serta merta mengingat aura seksualitas dari novelis ini. Karya Ayu Utami ini tidak jarang memotret dan membuat refleksi atas kurun sejarah manusia yang tidak banyak diungkapkan oleh orang lain. Ayu Utami sebagaimana dikenal dengan novelis wanita pertama di era 2000-an yang dengan berani mendobrak tabu seksualitas dan menjadikannya konsumsi umum setara dengan karya-karya yang lain. Lalita adalah novel seri Bilangn Fu karya Ayu Utami yang diterbitkan oleh Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta 2012. Secara keseluruhan novel ini merekam dan menampilkan gambaran manusia-manusia Indonesia dalam bentang sejarah yang cukup panjang. Di novel Lalita ini akan kita jumpai kembali ketiga tokoh sentral dalam novel sebelumnya yaitu Yuda, Parang Jati dan Marja. Dalam hal ini, kajian Lalita ditelaah melalui teori sastra yang sedang berkembang dalam dunia sastra masa ini yaitu teori postmodernisme.

Teori postmodern yaitu cara memandang sesuatu yang dianggap tidak benar oleh kebanyakan orang dan didekonstruksi sehingga yang dianggap  tidak benar bisa menjadi sesuatu yang dimaklumi karena memandang sesuatu dari sudut pandang yang berbeda. Contohnya masalah erotisme yang dibahas dalam novel Lalita. Dalam pandangan orang timur, seksualitas atau erotisme adalah suatu hal yang tabu dan kurang layak dibicarakan secara terang-terangan. Akan tetapi dalam novel ini penulis mengemas dengan apik hal tabu tersebut menjadi sesuatu yang layak dikonsumsi masyarakat. Penulis mengupayakan sedemikian rupa penggambarannya sehingga hal yang dirasa tabu tersebut menjadi hal yang biasa dan dapat diterima oleh masyarakat.  Selain erotisme ada hal yang bertentangan dengan akal sehat yang menunjukkan adanya unsur posmodernisme dalam Lalita. “….dan aku ingin mengakuinya dengan jujur, dengan segala konsekuensinya yang berbahaya. Bahwa aku adalah ketutunan drakula.” Secara logika, pada zaman modern ini tidak ada lagi istilah keturunan drakula dalam dunia nyata. Akan tetapi sama halnya pada kasus pertama penulis meracik dengan kompleksitas sehingga hal-hal yang tidak bisa diterima logika ini menjadi hal yang biasa dan dapat dikonsumsi oleh masyarakat.

Menilik ciri dari teori postmodern itu sendiri, cerita yang diangkat cenderung tidak jelas dan tidak masuk akal, tidak diketahui waktu kejadiannya, tidak ada kejelasan tokohnya ceritanya berupa cuplikan, tidak ada koneksi antarcerita dan semua tokoh berpartisipasi sebagai tokoh sentral. Sehingga terlihat jelas bahwa postmodern mengakaji sastra lebih realistis dan disertai dengan bumbu cerita yang diluar logika manusia dengan memasukkan kehidupan yang terjadi sebelum dan sesudah modern di lingkungan masyarakat ke dalam karya sastra yang dilihat dari sudut pandang yang berbeda. Lebih dari itu, postmodernisme juga mengandung fenomena budaya mempunyai ruang lingkup cukup luas. Postmodernisme tidak hanya melingkupi ilmu bahasa melainkan berbagai bidang misalnya dalam novel Lalita mengkaji tentang bidang sosial masyarakat, politik, ekonomi, religius, budaya, seksualitas dan dunia mistis.  

Kisah  Lalita ini bermula dari indigo Sandi Yuda yang dinamainya “momen autis”. Ia mengira hanya lelaki muda yang mengalaminya. Jika berbicara tentang pengisahan indigo “momen autis” ini akan terkuak banyak makna yang berkaitan dengan hal-hal yang tidak lagi lazim diperbincangkan. Dalam penceritaan indigo dipaparkan berbagai fenomena-fenomena tokoh terutama mengenai seksualitas. Lalita dan tokoh lainnya tidak jarang membayangkan percumbuan pada setiap orang yang mereka kenal ataupun baru mereka temui. Bagi mereka terjadinya percumbuan belum tentu karena hasrat atau nafsu, tetapi karena ketertarikannya pada seksualitas menjelma menjadi rasa ingin tahu yang otomatis. Dengan kata lain, setiap mereka melakukan percumbuan berarti telah menambah pengetahuan baru. Postmodernisme terlihat dari penceritaan kronologis percumbuan yang secara tidak langsung dapat membuat pembaca berfantasi atas apa yang dijabarkan penulis. Hal-hal yang dahulunya dianggap riskan dan tabu untuk dibahas, dalam teori ini dikikis habis dan didekonstruksi sehingga hal tabu tersebut berubah menjadi hal yang umum dan tidak lagi tabu untuk diperbincangkan. Dengan kata lain masyarakat baca akan melihat dari angle bahwa yang dikonsumsi adalah sebuah karya sastra.

Entah kesialan atau keberuntungan, Yuda yang sedang berada di Jakarta bertemu dengan Lalita yang dikenalkan oleh Oscar pemilik galery serta sekolah foto Antara. Dewasa dan cantik serta tak pernah terlihat tanpa polesan di wajahnya juga Indigo itulah sosok yang terlihat dimata Yuda ketika menilai Lalita. Yuda yang menyelamatkan Lalita dari serangan penggemar Oscar maka mendapat hadiah yang tak ternilai, ilmu dan penyatuan tutup sampanye yang membuat Yuda seperti kecanduan akan kehebatan tubuh indah Lalita. Lalu rahasia siapa Lalita pun mulai terkuak. Tanpa sengaja Yuda melihat buku indigo Lalita yang tertulis bahwa dia adalah keturunan drakula, benarkah itu? Seperti yang telah dikemukakan sebelumnya secara logika pada era modern saat ini tidak logis rasanya ada manusia yang masih memiliki garis keturunan dari makhluk sejenis drakula.

Penceritaan yang kembali menggambarkan teori postmodern pada cerita Lalita yang merasa bahwa ia pernah hidup sebanyak tiga kali di zaman dan periode yang berbeda. Lalita merasa pernah hidup pada saat pembentukan candi borobudur, pernah hidup sebagai drakula dan terakhir ia hidup sebagai manusia. Tidak hanya Lalita, kakaknya pun dalam novel ini juga digambarkan mempercyai dan meyakini hal itu. Secara kasat mata dan pandangan awam, tidak ada manusia yang tahu mengenai masa lalu seperti yang digambarkan Ayu pada Lalita. Disini terlihat jelas bahwa Ayu menghubungkaitkan antara masa lampau dengan masa modern lalu meramunya menjadi postmodern. Sesuai dengan teorinya hal-hal yang dirasa mustahil tersebut hanya diungkapkan dalam karya sastra khususnya pada teori postmodern.

Lalita dan rahasianya serta jilid tua dari kakek Lalita membawa Yuda, Parang Jati dan Marja menelusuri seluk beluk Candi Borobudur dan banyak lagi rahasia tentang Lalita yang terungkap. Didalam novel ini juga diceritakan bagaimana kakek Lalita yang orang Eropa bisa sampai di Indonesia dan membuat jilid tetang bagan – bagan Mandala. Serta kemauan kakek Lalita yang ingin terkenal. Novel yang sampul mukanya digambar sendiri oleh si penulis untuk menghormati pelukis botani ini terbagi dalam tiga bab, yaitu Indigo, Hitam dan Merah, kesemuanya adalah warna. Indigo juga merupakan sebutan bagi Lalita dari Sandi Yuda, perempuan dengan warna favorit biru mendekati ungu.

Pada babak ini kembali terlihat teori postmodern dimana cerita berlanjut pada lambang aurobros, ular yang menelan ekornya sendiri, sebuah simbol dari zaman pagan Mesir Kuno. Ayu menceritakan kehidupan pemuda kecil bernama Anshel Eibenschutz dengan cerita yang dituturkan Babushka Katarina kira-kira tahun 1889 di Paris tentang kehidupan para drakula. Hilangnya Buku Indigo pada saat yang bersamaan dengan disiksanya Lalita membuat buku setebal 256 halaman ini semakin hidup dengan petualangan, petualangan dua sahabat Sandi Yuda dan Parang Jati menyelamatkan kekasih Sandi Yuda, Marja yang juga dicintai Parang Jati. Dibagi menjadi tiga bagian. Indigo, Hitam, dan Merah. Kenapa ketiga warna ini? Sepanjang cerita yang juga memberi informasi mengenai fotografi ada banyak penjelasan mengenai warna, cahaya… Di akhir cerita juga ada pemaparan mengenai spektrum warna dan sebaiknya, masing-masing pembaca menafsirkan sendiri mengenai bagian-bagian ini. Dalam hal ini teori postmodern terletak pada cerita bagiana wal yang tidak memiliki hubungan dengan cerita berikutnya atau dengan kata lain tidak ada kaitan antara cerita bagian awal dengan selanjutnya. Yaitu bagian awal menceritakan tentang hubungan Lalita dengan Yuda, tetapi pada bagian selanjutnya lebih terfokus kepada Indigo dan makna dari warna-warna artistik dunia fotografi.

Selanjutnya terlihat juga ciri dari postmodern pada Lalita yaitu ceritanya yang tidak masuk akal. Sebagaimana yang terlihat pada penceritaan tokoh Yuda yang dihantui bayang-bayang wanita yang acap kali membuat ia tidak bisa tidur. pada penceritaan tersebut sangat jelas terlihat teori postmodern dalam novel Lalita, di sana digambarkan hal-hal yang tidak masuk akal dan di luar logika manusia namun hal tersebut adalah hal nyata yang terjadi dalam kehidupan masyarakat. Hal-hal itu pada hakikatnya tidak dapat diterima oleh masyarakat modern karena tidak ada teori yang melandasi bahwa jika tidak bisa tidur, seseorang dapat membayangkan fantasi seksual agar ia dapat tertidur. Untuk melegalisasikannya hanya teori postmodern yang dapat menjelaskan tentang keadaan yang terjadi itu dalam masyarakat.

Selain dari ciri-ciri postmodern yang telah digambarkan sebelumnya, teori postmodern juga terlihat pada penokohan dalam novel ini. Dapat dilihat semua tokoh berpartisipasi aktif sebagai tokoh sentral dari awal penceritaan hingga akhir. Dengan kata lain novel ini tidak memiliki satu tokoh utama, akan tetapi Ayu Utami menjadikan semua tokohnya menjadi tokoh utama sebagaimana novel-novel Ayu sebelumnya. Lebih dari itu, ceritanya juga sukar dipahami karena terlalu sering mengaitkan dengan fenomena magic dan mistis ataupun kejadian-kejadian masa lampau yang terjadi ratusan tahun lalu. Sehingga kaitan antara masa modern terkadang dirasa kurang rasional dan kurang relevan.

Keseluruhan pemahaman pemikiran postmodern menjadi penting untuk memahami berbagai ilmu pengetahuan dan budaya yang tidak lagi memadai untuk dianalisis hanya berdasarkan paradigma ilmiah modern yang lebih menekankan kesatuan, homogenitas, objektivitas dan universalitas. Sementara ilmu pada pandangan postmodern lebih menekankan pada pluralitas, perbedaan, heterogenitas, budaya lokal/etnis, dan pengalaman hidup sehari-hari. Sehingga teori postmodern itu dapat dilihat pada kehidupan Lalita yang melalui Ayu yang telaten dan cekatan mengupas sisi kehidupan masyarakat dengan cara yang menarik, meskipun bertentangan dengan norma-norma maupun nilai-nilai yang ada dalam masyarakat.   

Leave A Reply

Your email address will not be published.

error: Alert: Content selection is disabled!!