Menulis kreatif adalah proses menuangkan ide atau gagasan kreatif agar dapat menjadi tulisan yang baik dan menarik.
Menulis kreatif juga dimaknai sebagai ekspresi cara berpikir dalam menuangkan ide gagasan yang luar biasa ke dalam bentuk tulisan yang beda. Menulis kreatif adalah menulis untuk sastra. Bisa berupa puisi, cerpen, novel maupun naskah drama. Selain itu menulis kreatif juga diwujudkan dalam bentuk tulisan jurnalistik berupa feature, berita, tajuk, dan kolom.
Nah… pada kali ini, penulis akan melakukan re-writing atau menuliskan kembali berita yang diterbitkan Padang Ekspres edisi Minggu 13 September 2015 menjadi sebuah feature.
Buk Ani, Sosok Wanita Tangguh Single Parents, Besarkan Anak dengan Berjualan Ampera
Wanita paruh baya yang senantiasa melayani pelanggannya dengan keramahtamahan ini adalah sosok yang mencerminkan ketegaran dan keihlasan diwajahnya. Tak ayal jika warung nasi ampera itu pun ramai dikunjungi oleh mahasiswa setiap harinya. Namun dibalik itu semua tak ada yang menyangka bahwa ia harus mengemban kelelahan dan beban berat hidupnya.
Sosok itu bernama buk Ani. Wanita yang memiliki usaha ampera tiga saudara di samping FK UNAND ini beusia 46 tahun. Usaha ampera ini sudah cukup lama dibangun oleh almarhum suami buk Ani yang meninggal empat bulan yang lalu. Sekarang ia harus merangkap peran sebagai ibu dan sebagai ayah untuk anak-anaknya. Buk Ani harus berkorban dan bekerja keras untuk menafkahi tiga orang anknya. Si sulung Sintia yang sedang duduk di kelas 3 SMA dan tak lama lagi akan memasuki perguruan tinggi. Anak keduanya, Revan duduk di kelas 2 SMP dan anak bungsunya, Hafiz akan memasuki Taman Kanak-Kanak juli mendatang.
Posisi dan peran yang ia jalani saat ini bukanlah peran yang mudah, karena tak banyak single parent yang rela bertahan hidup sendirian tanpa suami dan menjadi tulang punngung keluarga. Kelelahan karena bekerja setiap harinya berbanding lurus dengan sikap anak-anaknya. Buk Ani dikarunai anak-anak yang patuh, baik dan pintar ini dibuktikan dengan diraihnya peringkat sepuluh besar oleh anak buk Ani dan mendapat beasiswa dari sekolahnya. Buk Ani senantiasa menyenpatkan diri untuk memberi pengajaran kepada anaknya seusai berjualan. Ia selalu berpesan kepada anaknya untuk menjadi anak yang rajin tidak hura-hura seperti yang banyak terjadi di pergaulan anak-anak sekarang .
Memanajemen dan mempertahankan usaha ampera di wilayah kampus adalah hal yang sulit yang harus ditempuh oleh buk Ani. Karena membuka usaha ampera di lingkungan kampus berpeluang besar dan banyak dikejar oleh para pedagang baru yang ingin membuka lapak ampera. Setiap tahunnya selalu saja ada pedagang ampera atau pedagang makanan kecil-kecilan yang mencoba mencari peruntungan di kawasan yang sama.
Pada pagi hari ia telah mulai mempersiapkan anaknya untuk pergi sekolah dan berbelanja kebutuhan usahanya. Menjelang siangnya semua hidangan amperanya telah siap di etalase amperanya sembari menunggu pelanggan yang datang. Buk Ani berjualan setiap hari meskipun tidak ada kegiatan atau kampus diliburkan. Hal ini karena hanya inilah satu-satunya usaha yang ia punya untuk mencukupi kebutuhan hidupnya. Beliau tidak pernah memperhitungkan pendapatannya. Baginya tersedia modal untuk membeli bahan esok harinya, terpenuhi biaya anak-anaknya itu sudah cukup.
Buk Ani sekarang menempati hunian yang dibangun oleh mertuanya. Ia sangat mensyukuri bahwa ia masih memiliki tempat tinggal meskipun bukan rumahnya sendiri dan sekaligus sangat dekat dengan tempat usahanya. Pelanggan yang berdatangan tidak menentu jumlahnya, kadang ramai kadang kurang ramai, namun demikian buk Ani senantiasa bersyukur dan berharap esok pelanggannya akan bertambah ramai.
Kisah buk Ani mengajarkan kita tentang semangat menjalani hidup yang diberikan oleh Allah swt. Semua hal yang telah terjadi kepada kita adalah garis ketentuanNya dan kita harus ikhlas menerima ujian dan cobaan yang diberikan oleh Allah swt. Hal penting yang harus kita lakukan yaitu berikhtiar dan berdoa. Setelah itu bertawakal dan berserah diri kepadaNya.
Re-writer : Sera Marini



