- PENDAHULUAN
a. Identitas Buku yang Dilaporkan
Buku ini berjudul Membaca Sastra konsentrasi Pengantar Memahami Sastra untuk Perguruan Tinggi yang ditulis oleh Melanie Budianta, Ida Sundari Husen, Manneke Budiman dan Ibnu Wahyudi serta disunting kembali oleh Manneke Budiman, Ibnu Wahyudi dan I Made Suparta. Buku yang diterbitkan IndonesiaTera pada September 2003 ini merupakan cetakan kedua yang sebelumnya dicetak pada September 2002 Di Magelang dengan campur tangan Anggota IKAPI dan Perpustakaan Nasional RI: Katalog Dalam Terbitan (KDT). Buku yang telah diujicobakan selama dua semester pada mahasiswa Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya UI ini memiliki ketebalan 256 halaman dan panjang 21 cm.
b. Gambar Sampul Buku
Sampul buku pada buku Membaca sastra ini dirancang oleh W. Ida Lazarti sedangkan perwajahan dirancang oleh Saka weda. Akan tetapi gambar sampul pada buku yang ada pada penulis laporan tidak begitu jelas, Dikarenakan penulis laporan tidak mendapatkan buku aslinya, Penulis laporan hanya mendapatkan fotokopi dari buku Membaca Sastra yang ditulis oleh Melanie Budianta dkk. disebuah rental fotokopi didepan fakultas bahasa dan seni. Menurut dosen pembimbing, yakni Prof. Dr. Hasanuddin WS, M.Hum buku aslinya berwarna hitam maka dari itu ketika difotokopi gambar sampul buku tidak begitu jelas gambarnya.
c. Jenis Kertas yang Digunakan
Kertas yang digunakan adalah kertas HVS biasa dengan berat 60 gram yang seyogyanya sering digunakan pada buku berbentuk fotokopi.
d. Garis Besar Isi Buku
Garis besar isi buku yang disusun oleh Melanie dkk. ini terdiri dari 11 judul dan 17 subbab judul. Dan garis besar pertama buku ini berisi kata Pengantar dari penulis buku yang sedikit banyaknya dapat menjelaskan proses terciptanya buku Membaca Sastra dan tujuan serta manfaat buku tersebut. Pada garis besar kedua, berisi daftar isi yang mencantumkan judu-judul bab dan judul subbab bagian buku serta daftar halamannya agar pembaca tidak kesulitan mencari materi. Garis besar ketiga buku ini dimulai dengan BAB I yang membahas tentang SASTRA dengan perincian Subbab sebagai berikut: (1) Sastra Itu Apa? (2) Sastra : Antara Konvesi dan Inovasi (3) Fungsi Sastra (4) Produksi dan Reproduksi sastra. Bab I berikut subbabnya dapat kita temukan pada halaman 3-23. Dan Bab II berikut subbabnya terdapat pada halaman 31-58, Bab II buku Membaca sastra ini membahas tentang PUISI dengan perincian subbab sebagai berikut: (1) Puisi itu apa? (2) Unsur-Unsur Pembangunan Puisi dan (3) Aneka Ragam puisi. Sedangkan Bab III berisi tentang PROSA dan memiliki tiga subbab bagian, yakni: (1) Prosa: Struktur Narasi, (2) Unsur-Unsur Prosa: Tokoh, Latar, Alur. Dan (3) Struktur Penceritaan/Penuturan. Bab III bisa kita temukan pada halaman 77-89. Selanjutnya Bab IV, Bab IV buku Melani Budianta membahas tentang DRAMA, dan subbab Bab ini terdiri atas: (1) Hakikat Drama, (2) Karakteristik, Elemen drama, dan sarana Dramatik, serta (3) Pengakategorian Drama. Materi Bab IV terdapat pada halaman 95-111. Untuk Bab V, berisi tentang CATATAN UNTUK PENGAJAR. Dan Catatan Pengajar tersebut terbagi atas : (1) Catatan Untuk pengajar Sastra, (2) Catatan Untuk pengajar Puisi, (3) catatan untuk pengajar prosa, dan (4) catatan untuk pengajar drama. Keempat catatan untuk pengajar tersebut dapat ditemukan pada halaman 119-156. Selanjutnya garis besar lain yang terdapat pada buku melani budianta dkk. adalah DAFTAR PUSTAKA yang mencantumkan sumber bacaan, Referensi, dan rujukan yang digunakan penulis dalam menyusun buku Membaca Sastra ini. Daftar Pustaka pada buku melani budianta dapat ditemukan pada halaman 168-173. Setelah itu disusul oleh DAFTAR ISTILAH pada halaman 174-194 yang digunakan sebagai kamus mini buku membaca sastra jika pembaca tidak mengetahui istilah-istilah asing yang baru didengarnya. Dan pada LAMPIRAN buku ini penulis buku melampirkan cuplikan-cuplian cerpen oleh pengarang-pengarang handal yang digunakan sebagai sarana pembanding karya sastra dengan karya bukan sastra serta sebagai bonus bacaan tambahan yang diperuntukkan kepada pembaca jika pembaca ingin membaca cerita-cerita pembangkit motivasi seperti yang terlampir pada halaman 195-252. Terakhir, untuk lebih mengenal penulis buku Membaca sastra ini, penulis buku menyediakan BIODATA PENULIS pada halaman 253-255.
2. Bagian Buku yang Dilaporkan
a. Bab I Sastra
1) Sastra itu Apa?
Pada bagaian ini penulis buku membahas jawaban atas pertanyaan apa sesungguhnya sastra itu. Penulis buku mendefinisikan sastra itu sendiri dengan cara mengajak pembaca membandingkan antara teks sastra dan teks non sastra. Dalam bukunya, penulis buku membandingkan teks berita yang diterbitkan Koran tempo edisi 6-12 Oktober 1998 hal.59 yang berjudul “Jalan panjang Tragedi itu” dengan cuplikan teks cerpen karya Seno Gumira Ajidarma yang berjudul “Clara”.
Setelah pembaca membaca kedua teks tersebut penulis buku memberikan pertanyaan kepada membaca, yaitu bagaimana pengalaman pembaca setelah membaca kedua teks tersebut dan berbedakah perasaan pembaca pada saat membacanya? Lalu apa yang pembaca dapatkan setelah membaca kedua cuplikan teks tersebut?
Penulis buku menyampaikan bahwa sebagai langkah awal dalam pelajaran sastra itu sendiri kita akan mempelajari bagaimana karya sastra menyampaikan “pemahaman” tentang kehidupan dengan caranya sendiri. Untuk lebih meyakinkan pembaca, penulis buku mengutip beberapa pendapat dari kritikus sastra sebagai bentuk jawaban dari pertanyaan “sastra itu apa?” seperti pendapat dari Danzinger dan Johnson (1961) mereka melihat sastra sebagai suatu “Seni Bahasa” yakni cabang seni yang menggunakan bahasa sebagai mediumnya. Untuk perbandingan penulis buku juga mengutip pendapat dari Daiches (1964) yang mana pendapatnya mengacu pada Aristoteles yang melihat sastra sebagai suatu karya yang “menyampaikan suatu jenis pengetahuan yang tidak bisa disampaikan dengan cara yang lain”, yakni suatu cara yang memberikan kenikmatan yang unik dan pengetahuan yang memperkaya wawasan pembacanya.
Penulis buku juga mengatakan bahwa dalam pembelajaran sastra kita akan dihadapkan oleh pembandingan-pembandingan teks, ini bertujuan agar pembaca tidak sekedar paham, tetapi memahami. Penulis buku mengatakan bahwa kita akan membandigkan teks sastra dan teks beragam ilmiah. Selain itu kita juga akan membandingkan ungkapan-ungkapan yang bersifat denotatif dan konotatif. Dalam segi bahasa kedua teks tersebut penulis buku menyampaikan bahwa bahasa yang dipakai dalam artikel di media massa menekankan hal-hal yang bersifat teknis, seperti data, fakta, sumber primer, bukti dan contoh. Sedangkan cuplikan cerpen clara menggambarkan nuansa-nuansa perasaan dan pikiran yang tidak bias diwakili oleh angka dan statistik.
2) Sastra: Antara Konvensi dan Inovasi
Pada bagian subbab ini dibahas oleh penulis buku bahwa sastra berkaitan dengan persoalan konvensi dan inovasi. Hal yang dimaksudkan dengan konvensi adalah perjanjian, kebiasaan atau aturan yang telah diterima orang banyak, disepakati bersama, dan sudah menjadi tradisi. Artinya kebiasaan tersebut dilakukan orang secara terus menerus dari waktu kewaktu. Pada subbab kedua ini penulis buku kembali melakukan perbandingan untuk menemukan konsep atau definisi dari sastra sebagai konvensi. Kali ini penulis membandingkan antara puisi dan memo. Yaitu puisi yang dibuat oleh seorang penyair yang bernama William carlos Williams ketika dia terlanjur memakan buah yang dimiliki oleh teman serumahnya dan ia meminta maaf dengan menuliskan pesan dengan mengikutu aturan-aturan penulisan puisi, sehingga memo yang dibuat oleh William menyerupai konvensi sebuah puisi. Untuk perbandingan penulis buku merubah konvensi penulisan puisi yang dibuat oleh william dengan konvensi penulisan memo. Setelah itu penulis buku kembali menanyakan Apa perbedaan teks pertama dan teks kedua? Dan mengapa teks pertama bias dikatakan sebagai puisi, bias juga sebagai memo. Sedangkan teks kedua tidak bisa dikatakan sebagai puisi? Siapa yang menetapkan aturan-aturan penulisan tersebut?
Penulis buku menjekaskan bahwa aturan dan konvensi mengalami inovasi dari zaman ke zaman sesuai dengan konteks budaya pada masa itu. Secara umum penulis buku mengatakan konvensi yang paling dasar adalah penggolongan jenis-jenis tek sastramenjadi tiga, yakni genre prosa, puisi, dan drama.
Dalam bukunya, penulis memberi contoh sebagai wujud inovasi karya sastra itu adalah puisi kontemporer yang dibuat oleh sutardji colozoum bachri yang berjudul “ Tragedi Winka dan Sihka”. Didalam puisi ini, pengarang hanya mementingkan tipografi daripada makna puisi itu sendiri. Oleh karena itu, puisi kontemporer ini tidak begitu dimengerti oleh pembaca yang tidak memahami puisi kontemporer itu sendiri.
3) Fungsi Sastra
Pada dasarnya karya sastra sangat diperlukan oleh manusia, oleh karena itu karya sastra secara terus menerus diciptakan sepanjang sejarah kehidupan manusia. Begitulah konsep dan definisi fungsi sastra yang diutarakan oleh penulis buku pada subbab 3 tentang fungsi sastra. Dalam Buku Membaca Sastra ini penulis juga mengutip pendapat seorang pemikir romawi yang bernama Horatius. Horatius mengemukakan istilah dulce et utile, dalam tulisannya yang berjudul Ars poetica. Yang berarti bahwa, sastra mempunyai fungsi ganda, yaitu menghibur dan sekaligus bermanfaat bagi pembacanya.
Berdasarkan buku yang ditulis oleh melani budianta karya sastra menjadi sarana untuk menyampaikan pesan tentang kebenaran, tentang apa yang baik dan buruk. Menurut penulis ada pesan yang sangat jelas disampaikan ada pula yang bersifat tersirat secara halus. Karya sastra juga dapat dipakai untuk menggambarkan apa yang ditangkap sang pengarang tentang kehidupan sekitarnya.
Penulis buku menyatakan bahwa pada hakikatnya fungsi sastra berubah dari zaman ke zaman, sesuai kondisi dan kepentingan masyarakat pendukungnya. Sastra merupakan media komunikasi yang melibatkan tiga komponen, yakni pengarang sebagai pengirim pesan, karya sastra sebagai pesan itu sendiri, dan pembaca ataupun yang dibayangkan oleh pengarang sebagai penerima pesan tersebut.
4) Produksi dan Reproduksi Sastra
Pada bagian subbab ini penulis buku membahas tentang produksi dan reproduksi sastra. Hal yang dimaksud dengan produksi sastra ialah proses penciptaan karya sastra. Setelah karya sastra diproduksi, selanjutnya karya sastra direproduksi yaitu karya sastra tersebut digandakan dan disebarkan. Sebagai pengantar subbab ini penulis buku menerangkan siapa saja atau komponen apa saja yang terlibat dalam proses produksi dan reproduksi karya sastra tersebut. Komponen sastra mencakup pengarang, karya sastra, pembaca, penerbit, kritikus, pemerintah, lembaga-lembaga pendidikan dan komunitas sastra. Setelah penulis buku menerangkan komponen yang terlibat dalam proses produksi dan reproduksi sastra, selanjutnya penulis akan membahas tentang bagaiman karya sastra tersebut diciptakan. Seorang pengarang menciptakan suatu karya sastra tidak dalam sesuatu yang hampa, melainkan dalam suatu konteks budaya dan masyarakat tertentu. Pencipta karya sastra yakni pengarang berkarya berdasarkan kreativitas dan imajinasi pengarang itu sendiri selanjutnya karya sastra tersebut dibaca oleh pembaca dan diterbitkan oleh penerbit serta dikritik oleh kritikus.
Berdasarkan pengamatan penulis buku, Penulis buku membandingkan jenis karya sastra pada zaman dahulu dan zaman sekarang. Sebelum adanya percetakan, masyarakat sulit sekali membaca karya sastra, Karena karya sastra tulis hanya berbentuk manuskrip. Jika orang lain ingin membacanya, mereka harus memperoleh manuskrip tersebut atau membaca salinan dari menuskrip tersebut. Pada zaman sesudah publikasi karya sastra secara massal dalam jumlah banyak, muncul suatu lembaga yang dinamakan penerbit. Penulis menyatakan bahwa pada zaman sekarang semua orang dapat membaca karya sastra karena karya sastra telah banyak diterbitkan berbentuk buku dan dijual di toko-toko buku. Lembaga lembaga pendidikan juga berperan penting dalam penyebaran karya sastra dan menyiapkan pembaca untuk menikmati karya sastra. Berdasarkan pernyataan penulis dalam buku Membaca sastra kritikus juga berperan penting dalam meningkatkan mutu karya sastra dengan memberikan penilaian atas karya sastra yang dihasilkan.
Kesimpulan dari penulis buku atas pembahasan subbab ini adalah semua pihak yang terkait dalam produksi dan reproduksi karya sastra sangat menentukan perkembangan kesusastraan di tempat tertentu dan zaman tertentu. Selain mendukung, menurut penulis buku pihak-pihak yang terkait tersebut dapat juga menghambat untuk mengekang atau menyensor karya sastra yang dianggap kurang bagus, tidak sesuai dengan norma yang dianut masyarakat tertentu, dan oleh karenanya membahayakan. Hal tersebut terjadi karena sifat karya sastra menurut penulis buku terbuka untuk interpretasi khalayak pembaca dari berbagai kelompok yang memiliki pandangan yang berbeda-beda tentang karya sastra tertentu, dan menyikapi karya sastra sesuai dengan pandangan dan gagasan mereka.
5) Bab V Catatan untuk Pengajar Sastra
a) Pengertian Sastra
Pada awal halaman catatan untuk pengajar sastra, penulis buku membukanya dengan subjudul pengertian sastra. Untuk mempersempit pembahasan, penulis buku memfokuskannya dengan membahas tujuan instruksional subperkuliahan tentang pengertian sastra itu sendiri. Penulis buku menjelaskan bahwa tujuan diajarkannya pengertian sastra adalah agar mahasiswa mampu mengenali dan memahami kekhasan karya sastra dibandingkan dengan produk-produk budaya lainnya, termasuk fungsinya, proses penciptaannya yang dibangun atas konvensi dan inovasi, serta penyebarannya dalam masyarakat. Penulis buku juga menjelaskan bahwa seluruh kegiatan memahami Pengertian Sastra memakan waktu seperempat dari masa perkuliahan, jadi kurang lebih empat kali pertemuan jika mata kuliah ini diadakan 16 kali pertemuan dengan dua SKS atau delapan kali pertemuan jika kuliah diadakan dua kali seminggu dengan tiga atau empat SKS. Penulis buku juga menyarankan agar pengajar dapat memberikan tugas-tugas kelompok dan partisipasi mahasiswa dalam diskusi di kelas sebagai bahan evaluasi subbagian pengajaran ini. Dan penulis buku menambahkan bahwa hendaknya pengajar lebih bersifat mendorong dan memberikan motivasi daripada memberi penilaian yang kaku.
Dalam subbab ini penulis buku menerangkan sebuah metode yang cocok dipakai dalam kegiatan kelas adalah kegiatan yang dilakukan Muray Krieger yang penulis buku temukan pembahasannya tentang esensi sastra dalam buku Adams tahun 1979 pada halaman 87-91. Menurut penulis buku metode Krieger sangat efektif digunakan karena mahasiswa akan dengan cepat mengeksplorasi pengetahuan atau pemahaman yang berkenaan dengan “Apa itu sastra?”. Dan metode Krieger tersebut berdasarkan bacaan penulis dalam buku Adams adalah Krieger membagi dua kolom untuk membandingkan karya ilmiah dengan karya sastra, khususnya terhadap bahasa yang dipakai dalam kedua jenis teks tersebut. Secara praktik kegiatannya penulis buku membaginya membagi dua tahap. Tahap pertama yaitu:
Penulis buku menekankan bahwa yang terpenting dalam kegiatan ini adalah pengajar harus memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk memahami karya sastra dan mengeksplorasi maknanya. Metode ini bisa diberikan dalam bentuk tugas kelompok dan setelah tiap kelompok memberikan jawabannya, pengajar membuka kunci atas karya sastra tersebut guna meluruskan dan membetulkan hal-hal yang diragukan oleh mahasiswa. Penulis menyarankan kepada pengajar agar mahasiswa diawasi pada saat mereka mengeksplorasi makna terutama dalam prinsip keabsahan penafsiran makna dan makna ganda.
Untuk melakukan pembandingan, penulis buku menerangkan bahwa pengajar harus menginstruksikan kepada mahasiswa untuk membuat dua kolom yang berisi pembanding antara dua karya tersebut, yakni karya sastra dan karya ilmiah yang mengkaji tentang struktur atau tata organisasi karya, tujuan, dan tata kebahasaanya.
Dalam subbab ini penulis buku menerangkan bahwa sebagai pengajar, para guru harus menjelaskan bahwa batasan-batasan tentang sastra hanya merupakan konvensi dari masyarakat pada waktu dan konteks budaya tertentu. Dan penulis menekankan bahwa sepanjang sejarah sastra, karya sastra terus menerus melakukan perombakan atau inovasi sesuai dengan dinamika kebudayaan. Ini bertujuan agar karya sastra tetap hidup dan senantiasa dinikmati oleh masyarakat dari waktu ke waktu.
Dalam subbab ini penulis buku menerangkan bahwa pengajar berkewajiban membantu mahasiswa untuk memahami berbagai macam fungsi sastra dalam masyarakat, termasuk fungsi untuk menghibur, mengkritik, mendidik, menjadi bagian dari ritual, tradisi dan sebagainya dengan cara menugaskan mahasiswa untuk mengumpulkan contoh-contoh penggunaan sastra dalam kehidupan kampus.
Menurut penulis buku pengajaran produksi dan reproduksi bagi pengajar bertujuan agar mahasiswa memahami interaksi semua pihak yang terkait dalam proses menciptakan dan memperbanyak karya sastra dalam masyarakat. Dan untuk praktiknya penulis menyarankan kepada pengajar untuk dapat menugaskan mahasiswanya menyusun suatu ulasan atau komentar tertulis terhadap puisi F. Rahardi, dalam peran yang berbeda-beda, misalnya sebagai sebagai pembaca, kritikus, penerbit, dan seterusnya.
3. KOMENTAR ISI BUKU
Untuk mengomentari buku ini penulis laporan menggunakan buku pembanding. Buku tersebut berjudul Pengantar Ilmu Sastra untuk membanding Bab I. Yang disusun oleh Jan Van Luxemburg dkk. Berdasarkan hasil bandingan tentang isi kedua buku ini dapat dilaporkan hal-hal sebagai berikut ini.
Pengertian sastra pada buku yang dilaporkan dijelaskan dengan cara menjawab pertanyaan yang terdapat pada halaman bab I yang di tulis dari halaman 3 s.d. 23. Penulis buku ini juga mengutip pandangan ahli sastra yang lain, yaitu Danzinger dan Johnson (1961) serta Daiches (1964) sedangkan pada buku pembanding pengertian sastra dijelaskan secara teoretik. Berdasarkan buku yang penulis baca, definisi sastra dari buku Membaca Sastra dijabarkan melalui pembandingan antara contoh karya sastra dan karya non sastra, dengan begitu sebagai pembaca akan sangat mudah memahami definisi sastra, karena pembaca tidak hanya mengetahui definisi sastra tetapi pembaca juga bisa membedakan mana karya sastra dan mana yang bukan karya sastra.
Sedangkan pengertian sastra dalam buku pembanding hanya dijelaskan secara teoritk dan tidak disuguhkan pembanding layaknya buku membaca sastra dan pengertian sastra yang dimaksud adalah Sastra merupakan sebuah ciptaan, sebuah kreasi, bersifat otonom, mengandung sintesa dan mengungkapkan yang tak terungkapkan. Berdasarkan hal tersebut bukan berarti buku pembanding tidak memberikan kontribusi yang baik, buku pembanding juga memberikan pengayaan tentang sastra hanya saja tidak sesempurna model yang dijabarkan dalam buku Membaca sastra.
Konvensi dan Inovasi sastra pada buku yang dilaporkan dijelaskan dengan cara membandingkan antara penulisan memo atau pesan singkat dengan penulisan puisi. Konvensi yang dimaksud dalam penulisan puisi itu artinya aturan dalam penulisan puisi. Seyogianya penulisan puisi memiliki konvensi seperti pengaturan bait, baris dan diksi. Dan pada buku yang dilaporkan konvensi penulisan puisi dengan mudah dapat dipahami oleh pembaca karena penulis buku langsung menghadirkan contoh penulisan puisi dan memo. Pada dasarnya tidak ada aturan yang mengikat hal-hal tersebut namun yang membuat penulis puisi terbiasa atau patuh pada aturan tersebut karena penulis-penulis sebelumnya telah menyepakati suatu tradisi dan diterima oleh semua orang serta menjadi suatu kebiasaan dan keharusan yang digunakan dalam tata cara penulisan puisi.
Sedangkan konsep konvensi dan inovasi sastra dalam buku pembanding dijelaskan secara implisit dan tidak dinyatakan secara jelas. Berdasarkan buku yang penulis baca, buku pembanding menjelaskan konvensi distansi. Yaitu konvensi yang mengatur sudut pandang sebuah karya sastra, dalam hal ini buku pembanding menjelaskan bahwa sajak yang menampilkan “aku” sebagai tokoh utama bukan berarti karya itu dialami oleh si penulis atau pengakuan pribadinya. Ini membuktikan bahwa semua pengarang berhak menceritakan apa yang dialami, apa yang dilihat, dan apa yang diceritakan orang untuk dijadikan sebuah inspirasi dalam karyanya. Intinya tidak selalu pengarang berkarya berdasarkan pengalaman pribadinya meskipun didalam karya tersebut menggunakan sudut pandang orang pertama.
Fungsi sastra dalam buku yang dilaporkan dijelaskan secara eksplisit dan mendalam, karena berdasarkan buku yang penulis baca fungsi sastra yang dibahas dalam buku Melanie budianta sangat rinci dan disertai contoh-contoh yang dapat menambah keyakinan atau pemahaman pembaca dalam mempelajari sekaligus memahami fungsi sastra dalam kehidupan. Berikut fungsi sastra yang dijelaskan oleh buku yang dilaporkan. Fungsi sastra dalam masyarakat adalah untuk menghibur, mengkritik, mendidik, menjadi bagian dari ritual, tradisi dan sebagainya. Selain itu fungsi sastra yang dikemukakan oleh buku Melanie budianta menekankan bahwa fungsi sastra berubah dari zaman ke zaman sesuai dengan kondisi dan kepentingan masyarakatnya. Artinya bukan tidak mungkin bahwa fungsi sastra pada zaman mendatang akan berubah, sebagaimana fungsi sastra pada zaman dahulu dengan funsi sastra pada zaman sekarang.
Pada dasarnya perubahan fungsi tersebut didasari oleh penggunanya. Ketika kondisi dan kepentingan masyarakat tidak sama, maka perubahan fungsi dari sastra itu sendiri juga ikut berubah. Seperti ritual berbalas pantun yang biasanya dilakukan untuk mengantar pengantin namun pada sebagian kaum ritual berbalas pantun dijadikan sebagai mantra penolak bala atau penolak hujan. Dari contoh tersebut dapat dilihat pergeseran fungsi sastra karena kondisi dan kepentingan masyarakat. Sedangkan dalam buku pembanding, fungsi sastra dijelaskan melalui definisi sastra seperti sastra merupakan sebuah ciptaan dan kreasi oleh karena itu fungsi sastra disini merupakan sarana luapan emosi yang spontan dan memberi kesan tersendiri bagi pengarang. Selain itu buku pembanding menjelaskan bahwa sastra bersifat otonom, tidak mengacu kepada sesuatu yang lain dan tidak bersifat komunikatif. Karya sastra yang bersifat otonom dapat ditafsirkan sebagai suatu keselarasan yang mendalam antara bentuk dan isi. Untuk hal ini buku pembanding berpedoman kepada fungsi puisi yang diutarakan oleh jakobson. Artinya sastra berfungsi sebagai media dari penulis untuk mencari keselarasan bentuk dan isi di dalam karyanya sendiri. Dan fungsi sastra dalam buku pembanding juga menjelaskan bahwa karya sastra khususnya puisi dapat mempersatukan pertentangan dalam bentuk sintesa. Misalnya pertentangan antara yang disadari dan tidak disadari, antara pria dan wanita, antara roh dan benda dan seterusnya.
Produksi dan reproduksi sastra dalam buku yang dilaporkan dijelaskan secara kronologis dan runtut dari awal hingga akhir. Sebelumnya penulis laporan akan mengulang kembali apa yang dimaksud dengan produksi dan reproduksi sastra berdasarkan buku yang penulis laporkan. Setelah karya sastra diproduksi atau diciptakan oleh pengarang kemudian sastra direproduksi oleh komponen atau pihak-pihak yang bertanggung jawab atas itu. Dan komponen-komponen tersebut adalah pengarang, karya sastra, pembaca, penerbit, kritikus, pemerintah dan lembaga-lembaga pendidikan, serta komunitas sastra. Semua komponen yang tersebut diatas memiliki andil yang sama pentingnya, tidak ada yang diunggulkan dan tidak ada pula yang dikerdilkan. Semua komponen tersebut berperan penting dalam proses produksi dan reproduksi sastra. Intinya jika salah satu dari komponen tidak terlibat didalamnya maka tidak tercipta sebuah karya sastra yang berkualitas. Dengan penyampaian yang sedemikian rupa, pembaca dengan mudah memahami proses tersebut serta dapat mengaplikasikannya kedalam kehidupan.
Sedangkan pada buku pembanding, produksi dan reproduksi sastra tidak dijelaskan sama sekali. Sebagai gantinya buku pembanding menjelaskan tentang pengolahan bahan sastra. Pengolahan bahan sastra yang dimaksud adalah pengolahan suatu karya sastra yang menekankan ekuivalensi dan penyimpangan dari tradisi bahasa atau tata bahasa seperti misalnya karya sastra pada angkatan 45 yang sering mengandung ambiguitas atau kepadatan arti. Hal tersebut bisa dimasukkan kedalam kritik sastra yang mana kritik termasuk proses reproduksi sastra oleh kritikus. Hanya saja tidak seluas yang dijabarkan oleh buku yang dilaporkan.
Terakhir, buku yang dilaporkan juga menyuguhkan tentang catatan untuk pengajar baik itu sastra, puisi, prosa dan drama yang sejatinya perlu diperhatikan oleh tenaga pengajar dalam proses pembelajaran. Namun disini penulis laporan hanya melaporkan salah satu dari catatan pengajar tersebut. Yaitu catatan untuk pengajar sastra. Dengan demikian bertambah lengkap dan sempurna buku melani budianta dkk. ini, mengapa dikatakian demikian? Setelah penulis laporan membaca buku pembanding, penulis tidak menemukan catatan untuk pengajar sastra ataupun yang lainnya. Jadi pada intinya buku pembanding hanya menjelaskan secara teori tentang sastra itu sendiri sedangkan pada buku yang dilaporkan penulis buku menjelaskan tentang teori sekaligus praktisinya dalam kehidupan terutama dalam bidang pengajaran.
4. PENUTUP
Setelah melaporkan isi buku Membaca Sastra (Pengantar Memahami Sastra untuk perguruan tinggi) dan membandingkan dengan buku bandingan dapat disimpulkan bahwa isi buku yang dilaporkan sesungguhnya dari segi bahasa lebih mudah dipahami karena menggunakan kalimat-kalimat sederhana, komunikatif dan deskriptif sehingga pembaca dengan sangat mudah memahami materi-materi yang disuguhkan oleh penulis buku. Lebih jauhnya buku yang dilaporkan tidak hanya memberi pemahaman, akan tetapi buku tersebut juga memberi pengajaran kepada pembaca melalui contoh-contoh yang implementasinya dapat diterapkan oleh pembaca khususnya mahasiswa dalam kehidupan.
Sedangkan buku pembanding pengantar ilmu sastra yang ditulis dan disusun oleh Luxemburg dkk. untuk materi sastra terbilang agak sulit dipahami bahasanya, hal ini disebabkan oleh sesungguhnya buku tersebut tidak berbahasa Indonesia namun agar isi buku ini dapat dibaca oleh orang Indonesia maka buku ini diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia yang dipakai dalam buku terjemahan ini tergolong kepada bahasa Indonesia dengan level tinggi sehingga untuk ukuran mahasiswa buku tesebut kurang efektif digunakan jika bahasanya kurang bisa dipahami oleh pembaca. Bahasa yang digunakan dalam sebuah buku berfungsi menjembatani pembaca untuk menjelajahi dunia buku tersebut, jadi bahasa buku seharusnya lebih sederhana agar pembaca dengan mudah memahami isi atau materi dari buku tersebut.
Secara keseluruhan buku yang dilaporkan yaitu buku Membaca Sastra mendominasi kelengkapan dan kesempurnaan materi yang dibutuhkan oleh pembaca dibandingkan dengan buku pembanding. Hal-hal yang mendukung keunggulan buku tersebut telah dijabarkan diatas bahwa baik dari segi isi, bahasa, metode, dan materi yang disuguhkan sesuai porsi yang dibutuhkan oleh pembaca. Oleh karena itu penulis merekomendasikan kepada mahasiswa atau pembaca lainnya untuk menggunakan buku Membaca Sastra (Pengantar Memahami sastra untuk perguruan Tinggi) yang ditulis oleh Melani Budianta dkk. Yang bertujuan agar pembaca dapat memahami dengan baik secara teori ataupun praktek tentang materi sastra selengkapnya. Hal ini berdasarkan pengamatan dan pengalaman penulis tentang materi sastra dalam buku yang dilaporkan ataupun buku pembanding.
DAFTAR PUSTAKA
Budianta, Melani, dkk. 2003. Membaca Sastra: Pengantar Memahi Sastra untuk Perguruan Tinggi. Magelang: Indonesia Tera
Luxemburg, Jan Van, dkk. 1989. Pengantar Ilmu Sastra. Jakarta: Gramedia



